Dr. Y. Anni Aryani, M.Prof.Acc., Ph.D., Ak. adalah dosen Akuntansi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan sosok difabel inspiratif yang sukses meraih gelar doktoral di Victoria University, Australia, meski memiliki keterbatasan fisik akibat polio sejak usia 2,5 tahun. Dikenal dengan prinsip hidup “Optimis, Bermanfaat, dan Tidak Menjadi Beban”, Anni membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat global dan aktif memperjuangkan fasilitas pendidikan yang inklusif di Indonesia.
Key Takeaways
- Prestasi Akademik: Meraih gelar S2 (University of Queensland) dan S3 (Victoria University) di Australia dengan beasiswa.
- Karir Dedikatif: Mengabdi sebagai dosen UNS sejak 1992, mengajar mahasiswa S1 hingga S3, dan meraih penghargaan Satyalancana Karya Satya XX Tahun.
- Advokasi Inklusivitas: Aktif menyuarakan pentingnya fasilitas publik dan pendidikan yang ramah difabel (disable-friendly), seperti ramp yang sesuai standar.
- Prinsip Hidup: Menolak mengasihani diri sendiri dan menjadikan kemandirian sebagai kunci sukses.
Jejak Langkah Anni Aryani: Dari Polio Menuju Panggung Dunia
Perjalanan hidup Anni Aryani adalah blueprint ketangguhan mental. Berikut adalah fase-fase penting dalam hidupnya yang menginspirasi:
1. Menolak Menyerah pada Vonis Polio
Terkena polio di usia 2,5 tahun yang melumpuhkan kedua kakinya tidak mematahkan semangatnya. Berkat dukungan orang tua yang “ngotot” memperjuangkan hak pendidikannya, Anni menempuh pendidikan di sekolah umum (bukan SLB) dari SD hingga Perguruan Tinggi, membuktikan kemampuan akademiknya dengan selalu menjadi juara kelas.
2. Menembus Batas Akademik Internasional
Anni tidak berhenti di jenjang sarjana (S1 UNS, 1991). Ia mengejar mimpi ke luar negeri:
- 1999: Meraih gelar Master of Professional Accounting (M.Prof.Acc) dari University of Queensland, Australia.
- 2009: Meraih gelar Ph.D. Accounting and Finance dari Victoria University, Melbourne.
3. Dedikasi Tanpa Batas sebagai Pendidik
Sejak 1992, Anni mengabdikan diri sebagai dosen Akuntansi di UNS. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif dalam forum ilmiah global dan nasional. Konsistensinya membuahkan hasil berupa penghargaan Dosen Teladan dan Dosen Berprestasi berkali-kali.
Analisis Pakar: Tantangan Inklusivitas di Indonesia
Sebagai pengamat kebijakan publik dan pendidikan, kisah Anni Aryani menyoroti celah besar dalam sistem inklusivitas di Indonesia yang perlu segera dibenahi:
- Fasilitas “Sekadar Ada” vs Fungsional:Banyak institusi pendidikan dan ruang publik membangun ramp (jalur kursi roda) hanya untuk memenuhi syarat proyek, tanpa memperhatikan standar kemiringan (maksimal 6 derajat). Akibatnya, fasilitas tersebut curam dan tidak bisa digunakan secara mandiri oleh difabel. Hal ini menghambat kemandirian mereka, berbeda jauh dengan fasilitas di Australia atau Jepang yang sangat user-friendly.
- Stigma Sosial & Dunia Kerja:Anni sendiri pernah mengalami penolakan kerja berkali-kali pasca lulus S1 meski nilai akademiknya cemerlang, semata-mata karena kondisi fisiknya. Stigma bahwa difabel adalah “beban” masih melekat kuat di birokrasi dan masyarakat umum, yang sering kali berubah sikap hanya setelah mengetahui status sosial atau gelar seseorang.
- Urgensi Penegakan Hukum:Meskipun regulasi (seperti UU Penyandang Disabilitas) sudah ada, law enforcement di lapangan masih lemah. Kesetaraan pendidikan dan aksesibilitas seringkali baru bisa didapat jika penyandang disabilitas “ngotot” memperjuangkannya, bukan karena sistem yang otomatis mengakomodasi.
Perbandingan Aksesibilitas: Indonesia vs Luar Negeri (Pengalaman Anni Aryani)
Berdasarkan pengalaman studi dan hidup Anni Aryani, berikut perbandingan nyata dukungan terhadap difabel:
| Aspek | Indonesia (Solo/Jakarta) | Australia (Melbourne/Queensland) |
| Transportasi Publik | Sulit diakses; bus tidak low deck, ramp curam | Sangat ramah; kereta & tram mudah diakses mandiri |
| Fasilitas Kampus | Seringkali gedung bertingkat tanpa lift/akses kursi roda | Fasilitas lengkap mendukung mobilitas mandiri |
| Sikap Masyarakat | Cenderung meremehkan atau “kasihan” | Memperlakukan setara & profesional |
| Birokrasi | Pelayanan sering diskriminatif (kecuali tahu jabatan) | Standar pelayanan inklusif tanpa pandang bulu |
Kesimpulan
Kisah Dr. Anni Aryani bukan sekadar cerita sukses seorang individu, melainkan tamparan keras bagi sistem sosial dan infrastruktur kita. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang prestasi, melainkan fasilitas yang tidak memadai dan mindset masyarakatlah yang seringkali menjadi tembok pembatas sebenarnya.
Saran saya, bagi para penyandang disabilitas, tirulah mentalitas baja Anni: jangan minta dikasihani, tapi tunjukkan kualitas diri. Kami menyarankan pemerintah dan institusi pendidikan untuk berhenti membangun fasilitas ramah difabel hanya sebagai “kosmetik”. Bangunlah dengan standar yang benar agar fungsinya nyata. Menurut hemat saya, inklusivitas sejati tercapai ketika seorang difabel bisa bepergian dan berkarya secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain setiap saat.
FAQ (People Also Ask)
Siapa Ani Aryani?
Dra. Y. Anni Aryani, M.Prof.Acc., Ph.D., Ak. adalah dosen akuntansi berprestasi di UNS Solo yang merupakan penyandang disabilitas (polio) namun berhasil meraih gelar S2 dan S3 di Australia.
Apa tantangan terbesar pendidikan inklusif menurut Ani Aryani?
Tantangan terbesarnya adalah fasilitas fisik (aksesibilitas) yang belum memadai, seperti gedung tanpa lift atau ramp yang terlalu curam, serta stigma masyarakat yang masih memandang sebelah mata kemampuan difabel.
Bagaimana cara Anni Aryani menghadapi diskriminasi?
Anni menghadapinya dengan kepercayaan diri, kemandirian, dan pembuktian prestasi. Ia menekankan prinsip untuk selalu optimis, bermanfaat, dan tidak menjadi beban bagi orang lain.
Apa pesan Anni Aryani untuk sesama penyandang disabilitas?
Anni berpesan agar tidak mudah putus asa, selalu bersyukur, dan jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk meminta belas kasihan. Difabel harus bangkit membuktikan diri melalui kerja keras dan prestasi.