Apa Itu Double Burden? Mengungkap Beban Ganda & Solusinya (2026)

Double Burden (beban ganda) adalah ketidakadilan gender di mana seseorang umumnya perempuan menanggung beban kerja yang jauh lebih besar dibandingkan jenis kelamin lainnya. Hal ini terjadi ketika seseorang harus bekerja mencari nafkah di sektor publik (pekerjaan berbayar), namun tetap dituntut memikul tanggung jawab penuh atas pekerjaan domestik rumah tangga (pekerjaan tidak berbayar) tanpa pembagian yang adil.

Key Takeaways

  • Definisi Inti: Beban kerja ganda yang tidak proporsional antara pekerjaan publik (karier) dan domestik (rumah tangga).
  • Akar Masalah: Budaya patriarki dan stereotip gender yang menganggap urusan rumah tangga adalah kodrat perempuan semata.
  • Dampak: Kelelahan fisik/mental (burnout), stres, hingga kurangnya waktu berkualitas dengan keluarga.
  • Solusi Utama: Komunikasi terbuka, pembagian tugas yang adil dengan pasangan, dan pendidikan kesetaraan gender sejak dini.

4 Langkah Efektif Mengatasi Double Burden

Beban ganda bukanlah takdir, melainkan konstruksi sosial yang bisa diubah. Berikut langkah konkret untuk memutus rantai ketidakadilan ini:

  1. Ubah Persepsi “Kodrat” vs “Peran”Pahami bahwa memasak, mencuci, dan mengasuh anak adalah life skill (keterampilan hidup), bukan kodrat biologis perempuan. Kodrat perempuan hanyalah menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah peran yang bisa dipertukarkan.
  2. Lakukan Komunikasi Asertif dengan PasanganAjak pasangan berdiskusi secara terbuka. Jelaskan bahwa tanggung jawab rumah tangga adalah milik bersama, bukan sekadar “membantu istri”, melainkan “menjalankan peran sebagai suami/ayah”.
  3. Buat Kesepakatan Pembagian TugasSusun jadwal atau kesepakatan tertulis. Misalnya: Istri memasak, suami mencuci piring. Atau bergantian mengantar anak sekolah. Keadilan tidak harus 50:50 setiap saat, tapi proporsional sesuai kapasitas masing-masing.
  4. Terapkan Pendidikan Gender Sejak DiniBiasakan anak laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan rumah yang sama. Jangan biarkan anak laki-laki hanya bermain sementara anak perempuan harus menyapu. Ini memutus rantai stereotip di generasi mendatang.
Baca Juga :  Tanaman Hias Anggrek: Jenis, Manfaat, & Cara Merawatnya 2026

Analisis Pakar: Mengapa Fenomena Ini Masih Langgeng?

Sebagai pengamat sosiologi keluarga, Double Burden seringkali terselubung di balik label “Superwoman” atau “Ibu Teladan”.

  • Jebakan “Second Shift” (Shift Kedua):Sosiolog Arlie Hochschild menyebut fenomena ini sebagai The Second Shift. Setelah “shift pertama” di kantor selesai, perempuan pulang ke rumah untuk memulai “shift kedua” (mengurus rumah dan anak). Sementara laki-laki seringkali pulang kerja untuk beristirahat. Akumulasi kelelahan ini berdampak fatal pada kesehatan mental dan keharmonisan keluarga.
  • Marginalisasi Peran Suami:Seringkali, budaya patriarki justru merugikan laki-laki dengan menjauhkan mereka dari peran domestik yang emosional. Ayah yang tidak terlibat dalam pengasuhan (karena dianggap tugas ibu) akan kehilangan kedekatan emosional dengan anak-anaknya.
  • Ilusi Substitusi:Banyak keluarga “menyelesaikan” masalah ini dengan mempekerjakan asisten rumah tangga (ART). Padahal, ini hanya memindahkan beban ganda dari satu perempuan (istri) ke perempuan lain (ART), tanpa mengubah pola pikir bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan.

Tabel: Perbedaan Peran Gender Tradisional vs Setara

Berikut perbandingan pola pikir yang melanggengkan beban ganda dengan pola pikir setara:

AspekPola Pikir Tradisional (Double Burden)Pola Pikir Kesetaraan Gender
Pencari NafkahTugas Utama SuamiTanggung Jawab Bersama (Fleksibel)
Pekerjaan RumahKewajiban IstriKewajiban Bersama Penghuni Rumah
Mengasuh AnakTugas Ibu, Ayah hanya “membantu”Co-Parenting (Pengasuhan Bersama)
IstirahatHak Suami setelah kerjaHak semua anggota keluarga

Kesimpulan

Double Burden adalah manifestasi ketidakadilan gender yang nyata namun sering diabaikan. Ketika perempuan dituntut sukses berkarir sekaligus sempurna di dapur, kita sedang menormalisasi eksploitasi tenaga atas nama “pengabdian”.

Saran saya, mulailah perubahan dari lingkup terkecil: rumah Anda sendiri. Jangan ragu meminta bantuan dan mendelegasikan tugas. Kami menyarankan para suami untuk proaktif mengambil peran domestik tanpa diminta, karena keluarga yang bahagia dibangun di atas kerjasama, bukan pengorbanan sepihak. Menurut hemat saya, kesetaraan dalam rumah tangga adalah kunci utama untuk menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat secara mental dan sosial.

Baca Juga :  Perpustakaan Keren di Jakarta: Panduan Lengkap Wisata Literasi 2026

Sumber Referensi

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa itu Double Burden dalam konteks gender?

Double Burden atau beban ganda adalah kondisi di mana salah satu pihak (biasanya perempuan) memikul tanggung jawab pekerjaan domestik yang berat di samping beban kerjanya mencari nafkah di sektor publik.

Mengapa perempuan lebih rentan mengalami beban ganda?

Karena adanya budaya patriarki dan stereotip gender yang melekat kuat, di mana pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dianggap sebagai kodrat alami perempuan, meskipun mereka juga bekerja di luar rumah.

Apa dampak negatif dari Double Burden?

Dampaknya meliputi kelelahan fisik dan mental yang kronis (burnout), tingkat stres tinggi, kurangnya waktu istirahat (me-time), hingga potensi konflik rumah tangga dan kerenggangan hubungan dengan anak.

Bagaimana cara mengatasi beban ganda dalam keluarga?

Solusinya adalah dengan membangun komunikasi yang setara, membagi tugas rumah tangga secara adil dengan pasangan, serta mendidik anak laki-laki dan perempuan untuk mandiri dalam urusan domestik sejak dini.

Tinggalkan komentar