Majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang menyamakan atau menyandingkan dua hal yang berbeda secara langsung tanpa menggunakan kata hubung (seperti, bak, laksana, bagaikan). Majas ini menggunakan kata kiasan (bukan arti sebenarnya) berdasarkan persamaan sifat untuk membuat kalimat menjadi lebih ringkas, imajinatif, dan dramatis.
Key Takeaways
- Perbandingan Langsung: Menyandingkan dua objek tanpa perantara kata hubung. Contoh: “Dia adalah bintang kelas“.
- Makna Kiasan (Non-Harfiah): Kata yang digunakan tidak boleh diartikan secara harfiah. Contoh: “Kutu buku” bukan berarti serangga, melainkan orang yang gemar membaca.
- Beda dengan Simile: Majas simile menggunakan kata hubung (Contoh: “Dia bersinar seperti bintang”), sedangkan metafora meniadakan kata hubung tersebut.
- Fungsi Utama: Memberikan penekanan emosional, memperindah karya sastra, dan menyederhanakan ide abstrak menjadi visual yang mudah dipahami.
Cara Membedakan dan Membuat Kalimat Bermajas Metafora
Agar tidak tertukar dengan majas perbandingan lainnya (seperti simile atau personifikasi), ikuti langkah-langkah berikut untuk mengidentifikasi dan membuat majas metafora:
1. Tentukan Dua Objek yang Berbeda
Pilih subjek utama dan objek pembandingnya. Objek pembanding biasanya berupa hewan, benda mati, atau konsep abstrak. (Contoh: Koruptor dan Tikus).
2. Temukan Kesamaan Sifatnya
Cari titik temu antara kedua objek tersebut. (Contoh: Koruptor suka mengambil hak orang lain secara diam-diam, sama halnya dengan perilaku tikus yang suka mencuri makanan).
3. Gabungkan Secara Langsung Tanpa Kata Hubung
Hapus kata hubung seperti “ibarat”, “bagai”, atau “seperti”.
- Salah (Ini adalah Simile): Koruptor itu bagaikan tikus berdasi di kantor.
- Benar (Ini adalah Metafora): Tikus berdasi itu akhirnya ditangkap KPK.
4. Pastikan Mengandung Makna Kiasan
Kalimat harus tidak logis jika diartikan secara harfiah menurut kamus. (Contoh: “Hutan adalah paru-paru dunia“. Dunia tidak memiliki organ paru-paru secara anatomi).
Analisis Pakar: Mengapa Metafora Adalah Inti dari “Copywriting”?
Sebagai praktisi linguistik dan penulis naskah profesional, saya selalu menekankan bahwa majas metafora adalah instrumen paling powerful dalam dunia copywriting dan komunikasi massa.
Mengapa demikian? Otak manusia memproses gambar (visual) 60.000 kali lebih cepat daripada memproses teks abstrak. Metafora bekerja dengan cara “meminjam” citra visual dari objek yang sudah dikenal luas untuk menjelaskan sesuatu yang kompleks. Misalnya, ketika pakar ekonomi mengatakan “inflasi adalah pajak siluman“, publik langsung memahami betapa merugikannya inflasi tanpa perlu mengerti teori moneter.
Lebih jauh, penggunaan metafora secara sosiologis sering kali mencerminkan budaya suatu bangsa. Metafora antropomorfik di Indonesia (seperti buah hati atau tangan kanan) menunjukkan masyarakat kita yang komunal dan mengedepankan hubungan emosional antarmanusia. Penggunaan metafora yang tepat tidak hanya memperindah puisi, tetapi mampu menggiring opini publik, memenangkan kampanye politik, hingga mendongkrak penjualan produk karena kemampuannya memicu respons emosional secara instan.
Visualisasi Data: Contoh Majas Metafora Berdasarkan Jenisnya
Berikut adalah pengelompokan contoh majas metafora yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari beserta makna kiasannya:
| Kata Metafora (Kiasan) | Makna Sebenarnya | Contoh Penggunaan dalam Kalimat |
| Kutu Buku | Gemar membaca | Sejak kecil ia dikenal sebagai kutu buku di sekolahnya. |
| Buah Bibir | Bahan gosip/pembicaraan | Skandal artis itu menjadi buah bibir masyarakat. |
| Kepala Batu | Keras kepala / bebal | Dasar kepala batu, ia tidak pernah mau mendengar saran orang lain. |
| Cuci Otak | Dicuci doktrin/pikirannya | Hati-hati, kelompok radikal itu suka melakukan cuci otak. |
| Si Jago Merah | Api kebakaran | Ratusan kios pasar habis dilahap si jago merah semalam. |
| Tulang Punggung | Penopang hidup keluarga | Andi menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya wafat. |
| Banting Tulang | Bekerja sangat keras | Ayah banting tulang dari pagi hingga malam demi biaya sekolahku. |
Kesimpulan
Majas metafora adalah teknik gaya bahasa yang mengandalkan perbandingan implisit untuk mengubah kata-kata biasa menjadi lukisan mental yang penuh warna dan makna. Tanpa metafora, komunikasi manusia akan terasa sangat kaku, kering, dan kehilangan dimensi puitisnya.
Menurut hemat saya, penguasaan majas metafora adalah syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menulis fiksi, pidato, maupun artikel yang persuasif. Saran saya, cobalah untuk mengurangi penggunaan kata sifat yang standar (seperti “sangat marah”) dan mulailah menggantinya dengan metafora (seperti “naik darah” atau “gelap mata”) untuk memberikan efek kejut pada pembaca Anda. Kami menyarankan agar para tenaga pendidik terus melatih siswa membuat perumpamaan metafora yang baru dan tidak klise agar imajinasi dan nalar kritis mereka terus berkembang.
Sumber Referensi
FAQ (People Also Ask)
Apa pengertian dari majas metafora?
Majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang menyamakan dua hal atau objek yang berbeda secara langsung tanpa menggunakan kata hubung (seperti, laksana, bagaikan) berdasarkan persamaan sifatnya.
Apa ciri khas dari majas metafora?
Ciri utamanya adalah tidak menggunakan konjungsi perbandingan (tanpa kata bak, bagaikan, laksana), membandingkan dua hal secara langsung (implisit), dan selalu menggunakan kata bermakna kiasan (bukan arti sebenarnya).
Apa bedanya majas metafora dan simile?
Perbedaannya terletak pada kata hubung. Simile (perumpamaan) menggunakan kata hubung eksplisit seperti “wajahnya pucat bagai kapas”. Sedangkan metafora meniadakan kata hubung tersebut, seperti “Rina adalah bunga desa“.
Sebutkan 5 contoh kalimat majas metafora!
- Koruptor itu dijuluki tikus kantor.
- Ia menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
- Rina selalu menjadi anak emas di keluarganya.
- Jangan mudah percaya dengan kabar burung tersebut.
- Perusahaan itu terpaksa gulung tikar akibat pandemi.