Apa Itu NU (Nahdlatul Ulama)?

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Secara etimologis, Nahdlatul Ulama berarti “Kebangkitan Ulama”. Organisasi ini lahir dari kalangan pesantren dan berfokus pada pelestarian tradisi Islam Nusantara yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Key Takeaways

  • Sejarah Pendirian: Didirikan oleh para ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai respons terhadap masifnya gerakan pemurnian Islam (Wahabisme) dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
  • Ideologi Aswaja: Menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengakomodasi 4 mazhab fiqih (terutama Syafi’i), teologi Asy’ari/Maturidi, dan tasawuf Al-Ghazali/Al-Junaidi.
  • Sikap Tawasuth: Mengedepankan prinsip Islam yang moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), dan inklusif terhadap kebudayaan lokal (al-‘adah muhakkamah).
  • Kembali ke Khittah 1926: Pada tahun 1984, NU secara resmi menarik diri dari politik praktis kepartaian dan kembali menjadi organisasi sosial-keagamaan yang fokus pada pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.

Memahami Pilar Ideologi dan Praktik Keagamaan Nahdlatul Ulama

Untuk memahami bagaimana NU bekerja dan dianut oleh jutaan umat Islam di Indonesia, Anda perlu mengenali fondasi ajaran dan tradisi yang dipertahankannya:

1. Mengikuti Mazhab dalam Fiqih (Hukum Islam)

Secara institusi, NU mengakui dan menjadikan empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sebagai rujukan hukum Islam. Namun, dalam praktik kesehariannya, mayoritas mutlak warga nahdliyin (sebutan untuk pengikut NU) sangat kuat berpegang pada Mazhab Syafi’i.

2. Pendekatan Akidah (Tauhid) yang Rasional

Baca Juga :  Apa itu KNetz?

Dalam ranah teologi atau ketuhanan, ajaran NU merujuk pada pemikiran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Aliran ini menyeimbangkan penggunaan wahyu (Al-Qur’an/Hadis) dengan akal (rasionalitas) dalam memahami sifat-sifat Tuhan.

3. Bertumpu pada Tasawuf (Spiritualitas)

Berbeda dengan kelompok Islam puritan yang menolak tasawuf, NU justru menjadikannya pilar ketiga. NU mengikuti ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali dan Imam Abu Qosim Al-Junaidi, yang menekankan kebersihan hati, akhlak mulia, dan kecintaan kepada Tuhan tanpa meninggalkan syariat.

4. Merawat Tradisi Kultural (Amaliyah)

Inilah ciri khas yang paling terlihat di masyarakat. NU sangat menjaga tradisi kultural yang telah diakulturasi dengan nilai Islam oleh para Wali Songo. Praktik seperti Tahlilan, Yasinan, Maulidan, Ziarah Kubur, dan Haul (peringatan wafatnya seorang ulama) dipertahankan sebagai alat perekat sosial dan metode dakwah.

Analisis Pakar: Mengapa Eksistensi NU Sangat Krusial bagi Indonesia?

Sebagai sosiolog agama dan pengamat pergerakan Islam, keberadaan Nahdlatul Ulama bukan sekadar fenomena keagamaan, melainkan jangkar stabilitas geopolitik dan sosial-budaya di Indonesia.

  • Peredam Radikalisme Melalui Al-‘adah Muhakkamah: Banyak gerakan Islam transnasional yang gagal berkembang di Indonesia berkat benteng kultural NU. Prinsip fiqih al-‘adah muhakkamah (adat kebiasaan bisa dijadikan pijakan hukum) membuat NU mampu “mengislamkan budaya” alih-alih “membudayakan (kearaban) Islam”. Hal ini membuat masyarakat akar rumput tidak merasa terancam identitas kelokalannya, sehingga Islam dapat diterima dengan ramah tanpa kekerasan.
  • Inkubator Nasionalisme (Hubbul Wathan Minal Iman): Pada masa prakemerdekaan, KH Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini mewajibkan umat Islam membela kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa bagi NU, membela negara bukanlah hal yang sekuler, melainkan bagian integral dari keimanan (Hubbul Wathan Minal Iman – Cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman). Inilah mengapa NU menjadi garda terdepan dalam menolak pendirian negara agama (khilafah) yang mengancam Pancasila.
  • Pemberdayaan Melalui Pesantren: Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama tradisional. Dengan ribuan pesantren yang tersebar hingga ke pelosok desa, NU secara tidak langsung telah mendistribusikan pendidikan, literasi, dan pemberdayaan ekonomi mikro jauh sebelum negara mampu menjangkau wilayah tersebut.
Baca Juga :  Apa itu Denial?

Tabel Sejarah Perjalanan Politik & Sosial Nahdlatul Ulama

Untuk melihat dinamika peran NU di Indonesia, berikut adalah fase-fase penting dalam perjalanannya:

Fase / EraStatus OrganisasiFokus dan Peran Utama
Prakemerdekaan (1926-1945)Ormas Keagamaan (Bagian Masyumi)Melawan penjajahan kolonial, membentengi tradisi dari gerakan Wahabi, dan mencetuskan Resolusi Jihad.
Orde Lama (1952-1965)Partai Politik Mandiri (Partai NU)Keluar dari Masyumi menjadi partai politik. Aktif di Parlemen (DPR) dan berkonfrontasi ideologis secara langsung dengan Partai Komunis (PKI).
Orde Baru (1973-1984)Fusi Partai (PPP)Dipaksa fusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) oleh rezim. Ruang gerak politiknya sangat dibatasi.
Pasca 1984 – SekarangKembali ke Ormas (Khittah 1926)Mundur dari politik praktis (kepartaian), kembali menjadi ormas sosial-keagamaan yang inklusif, toleran, dan berfokus pada pendidikan umat.

Kesimpulan

Nahdlatul Ulama (NU) adalah manifestasi dari wajah Islam Nusantara yang otentik. Sejarah telah membuktikan bahwa NU bukan sekadar organisasi kumpulan para kyai, melainkan benteng pertahanan ideologi yang menjaga keseimbangan antara tegaknya syariat agama dan utuhnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga :  Apa Itu Lanyard?

Menurut hemat saya, kekuatan terbesar NU justru terletak pada keluwesannya dalam memeluk tradisi lokal tanpa kehilangan esensi tauhidnya. Saran saya, bagi generasi muda yang ingin mempelajari Islam yang damai dan tidak menghakimi, mendalami literatur Ahlussunnah wal Jama’ah versi pesantren adalah langkah yang sangat tepat. Kami menyarankan agar organisasi ini terus memperkuat adaptasinya terhadap teknologi digital (tanpa meninggalkan kultur sanad keilmuannya) agar nilai-nilai tawasuth (moderat) yang diusung tidak tenggelam oleh bisingnya dakwah ekstremis di media sosial.

Sumber Referensi

FAQ (People Also Ask)

Apa itu organisasi NU?

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1926. Organisasi ini berfokus pada bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan dengan berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

Siapa saja tokoh pendiri NU?

NU didirikan oleh sejumlah ulama besar Nusantara, dengan tokoh penggerak utamanya adalah KH Hasyim Asy’ari (sebagai Rais Akbar), KH Abdul Wahab Hasbullah (inisiator), dan KH Bisri Syansuri. Semuanya berbasis di Jawa Timur.

Apa tujuan utama berdirinya NU?

Tujuan awal berdirinya NU adalah untuk merespons gerakan pemurnian Islam (Wahabisme) di Timur Tengah yang mengancam tradisi bermazhab, serta untuk menyatukan para ulama dalam mempertahankan tradisi amaliyah Islam lokal dan melawan kolonialisme.

Apa bedanya NU dengan organisasi Islam lainnya?

Perbedaan paling mencolok adalah pendekatan kulturalnya. NU sangat akomodatif terhadap tradisi budaya lokal (seperti tahlilan, ziarah kubur, dan maulidan) selama tidak bertentangan dengan syariat, serta menjunjung tinggi sistem pendidikan pesantren tradisional.

Apa yang dimaksud dengan Kembali ke Khittah 1926?

“Kembali ke Khittah 1926” adalah keputusan strategis NU pada Muktamar 1984 di Situbondo untuk keluar sepenuhnya dari gelanggang politik praktis (partai politik) dan kembali ke tujuan awalnya sebagai organisasi murni sosial keagamaan (Ormas).

Tinggalkan komentar