Apa itu Tarawih?

Shalat Tarawih adalah shalat sunnah khusus (qiyamul lail) yang dikerjakan pada malam hari selama bulan Ramadhan setelah shalat Isya dan sebelum shalat Witir. Istilah “Taraweh” diambil dari bahasa Arab tarwīh yang berarti “istirahat”, merujuk pada jeda istirahat singkat yang dilakukan setiap selesai dua atau empat rakaat.

Key Takeaways

  • Asal Usul Nama: Dinamakan Tarawih karena pelaksanaannya diselingi dengan istirahat sejenak (tarwīh) di antara rakaat-rakaatnya untuk memulihkan tenaga.
  • Hukum Ibadah: Hukumnya adalah Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan) bagi laki-laki maupun perempuan, dan merupakan salah satu syiar utama bulan Ramadhan.
  • Sejarah Singkat: Rasulullah SAW hanya melakukannya berjamaah selama 3 malam karena khawatir akan dianggap wajib. Tradisi shalat Tarawih berjamaah 20 rakaat di masjid kemudian dihidupkan kembali dan dilembagakan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
  • Keutamaan Utama: Barang siapa mendirikan shalat Tarawih dengan iman dan mengharap pahala ( ihtisab ), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Bukhari & Muslim).

Panduan Tata Cara Shalat Taraweh

Pelaksanaan shalat Tarawih memiliki fleksibilitas dalam jumlah rakaat, namun esensinya tetap sama. Berikut panduannya:

1. Niatkan dengan Ikhlas.

Mulailah dengan niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat, baik sebagai imam maupun makmum. Niat adalah kunci diterimanya amal.

Baca Juga :  Apa itu Avoidant?

2. Kerjakan dalam Kelipatan Dua Rakaat.

Lakukan shalat dua rakaat lalu salam. Ulangi pola ini hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan (umumnya 8 atau 20 rakaat). Di sela-sela salam, disunnahkan untuk beristirahat sejenak atau membaca dzikir/bilal.

3. Akhiri dengan Shalat Witir.

Setelah rangkaian Taraweh selesai, tutuplah ibadah malam Anda dengan shalat Witir sebagai penutup (ganjil), biasanya 3 rakaat.

4. Lakukan Berjamaah di Masjid (Lebih Utama).

Meskipun sah dilakukan sendirian di rumah (munfarid), shalat Tarawih berjamaah di masjid memiliki keutamaan pahala seperti shalat semalam suntuk (HR. Tirmidzi).

Analisis Pakar: Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda?

Sebagai pengamat sejarah Islam dan fikih, perdebatan tahunan mengenai 8 atau 20 rakaat sering kali membingungkan masyarakat awam. Padahal, akarnya sangat jelas dalam sejarah.

  • Versi 8 Rakaat: Merujuk pada hadis Aisyah RA yang menyatakan Rasulullah tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (8 Taraweh + 3 Witir), baik di bulan Ramadhan maupun di luarnya. Pendapat ini dipegang teguh oleh organisasi Muhammadiyah dan sebagian ulama hadis.
  • Versi 20 Rakaat: Merujuk pada Ijma’ (konsensus) Sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Umar mengumpulkan umat untuk shalat berjamaah 20 rakaat agar bacaan Al-Quran tidak terlalu panjang dan memberatkan jika hanya 8 rakaat. Tradisi ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan mayoritas dunia Islam (termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi).
  • Esensi Kualitas: Perdebatan kuantitas (jumlah) seharusnya tidak mengalahkan kualitas. Shalat 8 rakaat yang dilakukan dengan tuma’ninah (tenang) jauh lebih baik daripada 20 rakaat yang dilakukan dengan tergesa-gesa (“Tarawih Kilat”). Keduanya sah dan memiliki dalil yang kuat.
Baca Juga :  Apa itu OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)?

Tabel Perbandingan Praktik Shalat Tarawih

Berikut perbedaan teknis antara dua praktik yang umum di Indonesia:

FiturTarawih 8 RakaatTaraweh 20 Rakaat
Dasar DalilHadis Aisyah RA (Praktik Rasulullah).Ijma’ Sahabat di masa Umar bin Khattab.
Formasi Rakaat4-4-3 atau 2-2-2-2 + 3 (Witir).2 rakaat x 10 kali salam + 3 (Witir).
Durasi BacaanCenderung ayat-ayat panjang/sedang.Cenderung ayat-ayat pendek (Juz Amma) agar tidak terlalu lama.
Jeda IstirahatJarang ada jeda (bilal) yang panjang.Sering diselingi bacaan bilal/shalawat di setiap 2 rakaat.

Kesimpulan

Shalat Tarawih adalah “hadiah” khusus dari Allah SWT di bulan Ramadhan untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Perbedaan jumlah rakaat hanyalah variasi fikih yang tidak seharusnya memecah belah persatuan umat. Inti dari Qiyam Ramadhan bukanlah pada angkanya, melainkan pada kekhusyukan dan konsistensi (istiqamah) dalam menghidupkan malam-malam mulia.

Baca Juga :  Apa itu PBI-JK?

Menurut hemat saya, pilihlah masjid atau metode yang membuat hati Anda paling hadir dan khusyuk. Saran saya, jika fisik Anda kuat, ikutilah imam sampai selesai (baik 8 atau 20) agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Kami menyarankan Anda untuk tidak menjadikan Taraweh sebagai beban, melainkan sebagai momen healing spiritual tahunan yang dinanti-nanti.

Sumber Referensi

FAQ (People Also Ask)

Apa itu shalat Tarawih?

Shalat Tarawih adalah shalat sunnah khusus yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan setelah shalat Isya. Ibadah ini bertujuan untuk menghidupkan malam Ramadhan (Qiyam Ramadhan) dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengapa dinamakan Taraweh?

Kata “Tarawih” berasal dari bahasa Arab tarwīh yang berarti “istirahat”. Dinamakan demikian karena para sahabat Nabi dahulu beristirahat sejenak setiap selesai mengerjakan empat rakaat (atau dua kali salam) untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan rakaat berikutnya.

Apakah shalat Tarawih wajib?

Tidak, hukum shalat Taraweh adalah Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan), bukan wajib. Artinya, jika dikerjakan mendapat pahala besar, namun jika ditinggalkan tidak berdosa.

Berapa jumlah rakaat shalat Tarawih yang benar?

Kedua pendapat (8 rakaat dan 20 rakaat) adalah benar dan memiliki landasan dalil yang kuat. Rasulullah SAW pernah mengerjakan 8 rakaat, sedangkan Khalifah Umar bin Khattab dan para sahabat menyepakati pelaksanaannya sebanyak 20 rakaat di masjid.

Kapan waktu pelaksanaan shalat Tarawih?

Waktu pelaksanaannya terbentang mulai dari setelah shalat Isya hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh). Namun, utamanya dilakukan secara berjamaah segera setelah shalat Isya.

Tinggalkan komentar