Hewan Limbar adalah sebutan masyarakat lokal Dayak di Kalimantan Barat untuk reptil endemik bernama ilmiah Lanthanotus borneensis (Biawak Tanpa Telinga). Hewan nokturnal langka yang dijuluki “fosil hidup” ini mendadak viral di media sosial pada awal 2026 setelah banyak kreator konten menjadikannya hidangan ekstrem tradisional yang dipadukan dengan bumbu khas seperti daun ubai.
Key Takeaways
- Bukan Mamalia: Limbar sering disalahartikan sebagai tupai atau lemur, padahal ia adalah reptil (Earless Monitor Lizard) yang hanya ada di Pulau Kalimantan.
- Karakteristik Fisik: Memiliki panjang 30-40 cm, tubuh silindris berotot, dan ekor yang sangat kuat untuk berenang serta pertahanan diri (menepis mitos “ekor 30x lipat tubuh”).
- Status Konservasi: Endemik dan rentan akibat hilangnya habitat (deforestasi), meski warga lokal terkadang menganggapnya sebagai hama pertanian.
- Menu Kontroversial: Dianggap lazim dan halal oleh tradisi lokal Dayak, daging limbar (terutama bagian ekor dan otak) sering dimasak dengan rempah kuat untuk menghilangkan aroma amis khasnya (kanta buntao).
Panduan Memasak Daging Limbar ala Tradisional Dayak (Gaya Jokak)
Bagi masyarakat lokal yang mengonsumsi limbar, proses pengolahan membutuhkan teknik khusus karena daging dan kulitnya terkenal sangat alot serta memiliki aroma yang menyengat. Berikut adalah tahapan memasaknya:
1. Rebus Daging (Blanching)
Rebus bagian tubuh limbar (terutama kepala dan ekor) terlebih dahulu menggunakan air mendidih. Langkah ini wajib dilakukan untuk menghilangkan bau khas (kanta buntao) sekaligus melunakkan kulit reptil yang sangat keras.
2. Siapkan Bumbu Rempah Kasar
Haluskan secara kasar bumbu dasar yang terdiri dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan jahe. Bumbu bertekstur kasar akan memberikan sensasi gigitan rempah yang kuat saat dimakan.
3. Tumis Bumbu hingga Harum
Panaskan minyak dan tumis bumbu kasar tadi hingga berwarna kuning keemasan. Tambahkan asam kandis untuk memberikan sentuhan rasa segar yang menyeimbangkan kegurihan daging.
4. Masukkan Daging & Daun Penawar Bau
Masukkan potongan daging limbar yang sudah direbus ke dalam wajan. Tambahkan air secukupnya agar bumbu meresap. Untuk menghilangkan sisa bau amis, wajib masukkan daun kunyit atau daun ubai (daun hutan beraroma khas) yang sudah diblender/ditumbuk halus.
5. Masak hingga Empuk
Aduk secara berkala, terutama pada bagian kepala dan ekor yang banyak lekukannya agar bumbu merata. Masak hingga kuah menyusut, mengental, dan daging bertekstur empuk berserat mirip daging kerbau.
Analisis Pakar: Mengapa Limbar Memicu Kontroversi di Tahun 2026?
Sebagai ahli konservasi dan antropologi budaya, fenomena viralnya Limbar (Lanthanotus borneensis) membuka ruang diskusi kritis antara pelestarian alam dan tradisi adat.
- Benturan Budaya vs Algoritma:Bagi masyarakat Dayak, mengonsumsi hewan hutan (seperti limbar) adalah praktik subsistence (bertahan hidup) yang sudah berlangsung lintas generasi. Namun, ketika praktik ini disiarkan secara live di TikTok dengan format mukbang/ASMR, ia berbenturan dengan etika audiens urban yang melihatnya sebagai “kekejaman terhadap satwa eksotis.”
- Status “Fosil Hidup” yang Terancam:Secara zoologi, Lanthanotus borneensis adalah satu-satunya anggota keluarga Lanthanotidae yang tersisa di Bumi. Meski warga lokal menganggapnya hama irigasi karena sering menggali tanah, para ilmuwan mencemaskan populasinya. Ancaman terbesarnya bukanlah perburuan untuk konsumsi lokal, melainkan hilangnya habitat akibat deforestasi hutan hujan tropis Kalimantan.
- Misinformasi Digital:Klaim bahwa limbar adalah “tupai vampir” atau memiliki “ekor 30 kali panjang tubuh” membuktikan lemahnya literasi keanekaragaman hayati masyarakat Indonesia. Viralnya hewan ini seharusnya menjadi momentum edukasi ekologis, bukan sekadar konten clickbait.
Tabel Fakta Ekologis & Kuliner Hewan Limbar
| Aspek | Penjelasan Detail |
| Nama Ilmiah | Lanthanotus borneensis (Kadal Monitor Tanpa Telinga) |
| Habitat Asli | Hutan hujan tropis, aliran sungai, rawa di Kalimantan (Borneo) |
| Pola Hidup | Nokturnal (aktif malam hari) & Fosorial (suka menggali tanah) |
| Makanan Alami | Cacing tanah, katak, ikan kecil, krustasea |
| Tekstur Daging (Kuliner) | Berserat kasar dan alot, mirip daging kerbau |
| Rempah Wajib (Kuliner) | Daun Ubai, Daun Kunyit, Asam Kandis (penawar bau amis) |
Kesimpulan
Hewan Limbar (Lanthanotus borneensis) adalah bukti nyata kekayaan biodiversitas purba yang masih tersembunyi di pedalaman Kalimantan. Viralnya hewan ini pada tahun 2026 bukan sekadar tren kuliner ekstrem, melainkan cerminan dari kesenjangan pemahaman antara kearifan lokal masyarakat adat dan masyarakat perkotaan.
Saran saya, alih-alih menghakimi tradisi kuliner masyarakat lokal, energi publik sebaiknya diarahkan untuk menuntut perlindungan habitat asli limbar dari kerusakan industri. Kami menyarankan agar pemerintah melalui BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) segera melakukan pendataan populasi terbaru untuk memperbarui status konservasi hewan ini. Menurut hemat saya, mengedukasi warga lokal tentang nilai ilmiah “fosil hidup” ini akan lebih efektif dalam menjaga populasinya dibandingkan dengan larangan konsumsi yang bersifat top-down.
Sumber Referensi
FAQ (People Also Ask)
Hewan apakah sebenarnya Limbar itu?
Limbar adalah sebutan lokal untuk Lanthanotus borneensis, spesies kadal purba tak bertelinga (reptil) yang sangat langka dan hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan (endemik Borneo).
Apakah hewan Limbar itu sama dengan tupai atau lemur?
Bukan. Limbar sering disalahartikan karena videonya tercampur di media sosial. Lemur hanya ada di Madagaskar, tupai adalah mamalia, sedangkan Limbar adalah reptil pemakan daging (karnivora/insektivora).
Mengapa masyarakat Dayak mengonsumsi hewan Limbar?
Bagi masyarakat pedalaman Dayak, mengonsumsi hewan hutan seperti limbar adalah bagian dari tradisi kuliner turun-temurun untuk bertahan hidup (foraging). Selain itu, hewan ini terkadang dianggap sebagai hama karena sering merusak tanah irigasi pertanian.
Apakah hewan Limbar terancam punah?
Saat ini, Lanthanotus borneensis dianggap rentan karena hilangnya habitat hutan hujan. Meski populasinya menyusut, spesies ini terkadang masih masuk dalam kategori Kurang Data (Data Deficient) secara global dan belum resmi dikategorikan Sangat Terancam Punah.