Pendekatan Gender dalam Pembangunan atau Gender and Development (GAD) adalah kerangka strategis yang muncul pada 1980-an, menggeser fokus dari sekadar melibatkan perempuan (WID) menjadi analisis mendalam terhadap relasi sosial yang dikonstruksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya bukan hanya meningkatkan partisipasi ekonomi, tetapi mentransformasi ketimpangan struktur sosial, politik, dan ekonomi agar kedua gender memiliki akses, kontrol, dan manfaat yang setara dalam pembangunan nasional.
Key Takeaways
- Evolusi Konsep: Bergeser dari pendekatan “Kesejahteraan” (1950-an) yang melihat perempuan sebagai objek pasif, menuju “Pengarusutamaan Gender” (1995-sekarang) yang menempatkan kesetaraan sebagai pilar utama.
- Inti GAD: Fokus pada relasi gender (hubungan sosial laki-laki & perempuan), bukan hanya pada perempuan semata.
- Strategi Nasional: Di Indonesia, Pengarusutamaan Gender (PUG) disahkan lewat Inpres No. 9 Tahun 2000.
- Urgensi: Kesetaraan gender bukan hanya soal HAM, tapi prasyarat efisiensi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Evolusi 6 Periode Integrasi Gender dalam Pembangunan
Pemahaman tentang gender tidak statis. Berikut adalah transformasi historis pendekatannya:
- Welfare Approach (1950-1970an): Fokus pada peran domestik perempuan sebagai istri/ibu. Pembangunan bersifat “amal” (top-down) untuk kesejahteraan keluarga.
- Women in Development (WID) (1970an): Perempuan mulai dilihat sebagai aset ekonomi. Tujuannya mengintegrasikan perempuan ke pasar kerja, namun tanpa mengubah struktur patriarki.
- Women and Development (WAD) (1975an): Kritik marxis terhadap WID. Fokus pada bagaimana ketergantungan kelas dan kapitalisme meminggirkan perempuan.
- Effectiveness Approach (1980an): Pragmatis; pelibatan perempuan dianggap penting agar proyek pembangunan lebih efisien dan produktif.
- Gender and Development (GAD) (1980an): Titik balik. Menganalisis relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya memberdayakan kaum tertindas dan merombak ketimpangan sosial.
- Mainstreaming Gender Equality (1995-Sekarang): Lahir dari Beijing Platform for Action. Gender wajib diintegrasikan ke dalam seluruh siklus kebijakan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
Analisis Pakar: Mengapa GAD Lebih Superior dari WID?
Banyak praktisi masih terjebak pada WID (sekadar memberi “proyek” khusus perempuan). Padahal, GAD menawarkan solusi sistemik:
- Holistik vs Parsial:WID hanya menargetkan perempuan (“menambah perempuan ke dalam campuran”), sedangkan GAD menargetkan hubungan sosial. Contoh: Memberi bantuan modal ke perempuan (WID) vs Mengubah hukum waris agar perempuan bisa memiliki aset sebagai agunan (GAD).
- Peran Laki-Laki (Maskulinitas):GAD mengakui bahwa ketidakadilan gender juga merugikan laki-laki (beban nafkah toksik) dan melibatkan mereka sebagai agen perubahan. Tanpa perubahan perilaku laki-laki, kesetaraan mustahil tercapai.
- Efisiensi Makroekonomi:Perspektif Human Capital dalam GAD membuktikan bahwa membiarkan perempuan tertinggal adalah inefisiensi ekonomi. Negara kehilangan potensi 50% SDM-nya.
Tabel Perbandingan: WID vs GAD
| Aspek | Women in Development (WID) | Gender and Development (GAD) |
| Fokus Utama | Perempuan (sebagai kelompok terisolasi) | Relasi sosial antara Laki-laki & Perempuan |
| Masalah | Perempuan kurang berpartisipasi dalam pembangunan | Ketimpangan relasi kuasa (subordinasi) |
| Tujuan | Peningkatan produktivitas ekonomi perempuan | Kesetaraan & Keadilan Gender (Equity & Equality) |
| Strategi | Proyek khusus perempuan (Women-only projects) | Pengarusutamaan Gender (Mainstreaming) di semua sektor |
| Solusi | Integrasi ke pasar kerja yang ada | Transformasi struktur sosial & hukum |
Kesimpulan
Pembangunan yang buta gender (gender-blind) bukan hanya tidak adil, tetapi juga cacat secara strategi. Pendekatan GAD mengingatkan kita bahwa “Gender” bukan berarti “Perempuan”, melainkan tentang bagaimana masyarakat mengonstruksi peran yang adil bagi semua.
Saran saya, bagi pembuat kebijakan, berhentilah membuat program yang sekadar “menempelkan” perempuan di akhir perencanaan. Mulailah dengan Analisis Gender sejak tahap pra-desain: siapa yang diuntungkan? siapa yang terbebani? Kami menyarankan implementasi Gender Budgeting (Anggaran Responsif Gender) sebagai alat ukur komitmen yang paling nyata. Menurut hemat saya, tanpa GAD, target Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi mimpi yang timpang sebelah.
Sumber Referensi
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa perbedaan Gender dan Jenis Kelamin?
Jenis kelamin (sex) adalah perbedaan biologis (alat kelamin, kromosom) yang kodrati dan universal. Gender adalah perbedaan peran, sifat, dan tanggung jawab yang dikonstruksi oleh sosial-budaya dan dapat berubah seiring waktu.
Apa itu Pengarusutamaan Gender (PUG)?
PUG adalah strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender ke dalam seluruh proses pembangunan (perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi) kebijakan dan program nasional.
Mengapa pendekatan WID dianggap gagal?
WID dikritik karena hanya fokus pada peran produktif (ekonomi) perempuan tanpa mengurangi beban peran reproduktif (domestik) mereka, sehingga justru menciptakan beban ganda (double burden) bagi perempuan.
Apa dasar hukum PUG di Indonesia?
Landasan utamanya adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, yang mewajibkan seluruh instansi pemerintah melaksanakannya.