“Sumber air su dekat” adalah frasa populer dalam bahasa Melayu Timur (Papua/NTT/Maluku) yang artinya “sumber air sudah dekat”. Kalimat ini bukan sekadar informasi geografis, melainkan ungkapan kegembiraan dan rasa syukur mendalam masyarakat di daerah kering ketika akses air bersih yang sebelumnya jauh dan sulit didapat kini sudah terjangkau berkat pembangunan infrastruktur (pipanisasi atau sumur bor).
Key Takeaways
- Asal Bahasa: Melayu Timur (Papua, NTT, Maluku).
- Makna Harfiah: “Su” berarti “sudah”, “Dekat” berarti jarak tempuh yang singkat.
- Makna Kontekstual: Simbol terwujudnya harapan atas kebutuhan dasar yang vital dan langka di daerah tersebut.
- Realita Lapangan: Masih banyak daerah di Indonesia Timur (seperti Kaimana dan Lanny Jaya) yang belum merasakan makna kalimat ini sepenuhnya karena kendala sanitasi dan akses.
Analisis Pakar: Realita di Balik Iklan “Sumber Air Su Dekat”
Meskipun slogan ini populer lewat iklan air mineral, fakta lapangan menunjukkan kesenjangan yang nyata antara narasi sukses dengan kondisi di beberapa wilayah terpencil Indonesia Timur.
1. Paradoks Ketersediaan Air vs Air Bersih
Di Kampung Gaka, Kaimana (Papua Barat), sumber air (sungai) memang “dekat”, namun air bersih layak konsumsi masih sangat langka. Data PIS PK menunjukkan hanya 2% keluarga yang memiliki sarana air bersih. Hal ini membuktikan bahwa “dekat” secara fisik belum tentu “layak” secara kesehatan.
2. Dampak Sanitasi Buruk (Open Defecation)
Keterbatasan air bersih memaksa warga di daerah pesisir (seperti Goras, Fakfak) menggunakan “jamban cemplung” yang langsung mengarah ke laut, atau bahkan tidak menggunakan air sama sekali untuk membersihkan diri (seperti di Lanny Jaya). Ini memicu tingginya kasus penyakit seperti diare yang menjadi penyakit urutan kedua di Kampung Gaka pada 2019.
3. Tantangan Infrastruktur Berkelanjutan
Program seperti Pamsimas sudah masuk, namun seringkali gagal dalam maintenance (pemeliharaan). WC umum dibangun, tetapi tidak ada airnya. Ini menunjukkan bahwa intervensi infrastruktur fisik saja tidak cukup tanpa edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang berkelanjutan.
Tabel: Perbandingan Kondisi Air di 3 Wilayah Indonesia Timur
Berikut adalah potret nyata kondisi air bersih berdasarkan pengamatan lapangan:
| Lokasi | Sumber Air Utama | Masalah Utama | Praktik Sanitasi |
| Kampung Gaka (Kaimana) | Sungai & Hujan | Air sungai tidak layak minum, diare tinggi | Kran umum kotor, minim jamban sehat |
| Kokas & Goras (Fakfak) | Tadah Hujan | Mobil tangki jarang datang, kemarau panjang | Jamban cemplung ke laut, mandi air laut |
| Lanny Jaya (Papua) | Kubangan Tanah | Air keruh bercampur tanah | Membersihkan diri dengan daun/kayu |
Kesimpulan
Frasa “Sumber Air Su Dekat” adalah cita-cita luhur yang belum sepenuhnya terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia. Air bukan sekadar komoditas, melainkan hak asasi yang menentukan kualitas hidup dan kesehatan generasi penerus bangsa.
Saran saya, program penyediaan air bersih di masa depan tidak boleh lagi bersifat Hit & Run (bangun lalu tinggal). Diperlukan pendampingan jangka panjang untuk mengubah perilaku sanitasi warga. Kami menyarankan pemerintah dan pihak swasta untuk fokus pada teknologi penjernihan air sederhana yang bisa dikelola mandiri oleh warga, bukan hanya pipanisasi yang bergantung pada pasokan listrik atau debit air yang tidak stabil. Menurut hemat saya, sampai setiap anak di pelosok Papua bisa minum air bersih tanpa takut sakit perut, slogan ini masih menjadi PR besar kita bersama.
Sumber Referensi
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa arti kata “Su” dalam bahasa Papua?
“Su” adalah kependekan dari kata “Sudah”. Kata ini sangat umum digunakan dalam percakapan sehari-hari di wilayah Indonesia Timur (Papua, Maluku, NTT) sebagai penanda waktu lampau atau penyelesaian suatu tindakan.
Mengapa air bersih sulit didapat di Indonesia Timur?
Faktor utamanya meliputi kondisi geografis yang sulit (pegunungan kapur/karang), curah hujan yang tidak merata, minimnya infrastruktur PDAM, dan kurangnya pemeliharaan fasilitas air yang sudah dibangun.
Apa dampak kesehatan dari kurangnya air bersih di daerah tersebut?
Dampaknya sangat serius, mulai dari tingginya angka penyakit kulit, diare (yang bisa fatal bagi balita), hingga stunting (gagal tumbuh) akibat infeksi berulang yang mengganggu penyerapan nutrisi.
Bagaimana solusi mengatasi krisis air di desa terpencil?
Solusi efektif meliputi pembangunan sumur bor dalam (deep well), teknologi pemanen air hujan (rainwater harvesting) skala besar, dan edukasi sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) agar fasilitas yang dibangun tetap terawat.