Sumber Air Su Dekat !!! (Bagian 2)

Sumber Air Su Dekat !!! (Bagian 2)

Oleh : Mariana Lusia Resubun

Di rumah, kami mendapatkan sumber air bersih dengan berlangganan air dari PDAM Merauke. Namun apabila musim kemarau tiba, kami “terpaksa” membeli air gerobak yang berasal dari air sumur di depan Toko Dua Merauke di jalan Raya Mandala. Kami “terpaksa” membeli air gerobak karena tidak mempunyai bak penampung air yang besar. Harga 1 gerobak berisi 15 jeriken kapasitas 20 liter adalah Rp 50.000 di waktu normal, dan melambung ke angka Rp 150.000 di musim kemarau. Artinya dengan uang sejumlah Rp 50.000 kami mendapatkan 300 liter air bersih.

Di atas sumur tersebut ada sebatang pohon mangga yang menaunginya. Saya membayangkan apabila pohon mangga tersebut ditebang, apakah masih ada air? Apabila musim kemarau tiba para pedagang air harus mengantri mulai dari subuh untuk mendapatkan air, para pembeli pun harus mengantri karena tinggi muka air akan berkurang dan diperlukan waktu agar air tersebut bisa “naik” kembali. Saya menduga dan dugaan saya bisa salah maupun benar, bahwa air yang diambil dari sumur di depan Toko Dua Merauke adalah gratis karena milik umum. Hanya diperlukan modal untuk membuat gerobak air dan membeli jeriken air.

Bagi warga kota Merauke yang tidak berlangganan air dari PDAM dan tidak mempunyai sumur di rumah, biasa membeli air dari mobil tangki 2000 liter untuk mengisi bak penampungannya. Harga pertangki air adalah Rp 130.000 di waktu normal dan mencapai Rp 200.000 di musim kemarau. Apabila 1 keluarga dengan 6 anggota keluarga, dalam seminggu 3 kali melakukan pengisian air tangki. Artinya keluarga tersebut membutuhkan 6000 liter air seminggu dengan biaya Rp 390.000/ minggu (harga normal) atau Rp 1.561.560/ bulan.

Menurut dugaan saya, sumber air tangki apabila berasal dari sumur umum adalah gratis, hanya diperlukan modal untuk membeli mobil tangki dan bensin. Lain halnya apabila sumber air diambil dari sumur warga, pasti ada kompensasi bagi pemilik sumur. Saya juga tidak tahu apakah ada kompensasi atau pembayaran jasa lingkungan kepada warga asli di Kampung Rawa Biru sebagai pemilik hak ulayat dari sumber air Rawa Biru. Menurut saya kompensasi wajib diberikan kepada pemilik hak ulayat di Rawa Biru karena telah menjaga hutannya, sehingga air tetap tersedia bagi kita warga kota Merauke.

Ketika mengikuti seminar tesis teman saya, saya baru tahu ada istilah “air maya (virtual water)”. Air maya berarti air yang tidak terlihat, ketika kita mengimpor beras dari luar negeri berarti juga kita mengimpor air. Di atas, saya menulis tentang jumlah air yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kilogram beras. Apabila kita mengimpor 1 ton beras berarti kita mengimpor 3,4 juta liter air, ditambah kebutuhan air minum, makan, dan mandi petani, belum lagi kebutuhan air orang-orang yang terlibat dalam proses produksi padi hingga sampai di tangan kita sebagai pembeli beras.

Berapa banyak air yang dibutuhkan? Silahkan hitung sendiri karena saya juga pusing membayangkan begitu banyak air yang dikeluarkan hingga menjadi sebutir nasi yang kita santap. Saya juga membayangkan berapa rupiah seandainya air tersebut diuangkan, apakah anda pusing? Marilah kita sama-sama pusing!

Seperti saya ceritakan di awal, krisis air terjadi bukan hanya karena kekurangan air bersih di musim kemarau namun juga akibat berlimpahnya air hujan yang menjadi banjir di musim penghujan. Selama ini ketika menonton di televisi bencana banjir hanya terjadi di daerah Jakarta dan Jawa pada umumnya sebagai akibat meluapnya sungai-sungai besar seperti Sungai Ciliwung, Sungai Citarum, Sungai Bengawan Solo dan sebagainya.

Namun ketika saya berada di Manokwari pada bulan Maret 2016, saya menyaksikan sendiri DAS Wariori di Prafi mengalami banjir. Areal persawahan, pemukiman penduduk dan kebun sawit terendam banjir. Atau masih ingatkah anda akan peristiwa banjir bandang pada tanggal 4 Oktober 2010 di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat akibat pencurian kayu atau illegal logging? Kerusakan hutan di Wasior ditambah hujan yang turun terus menerus selama 3 hari menyebabkan Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap. Tercatat banjir bandang juga menyebabkan 158 orang tewas (Tempo 2010), belum lagi ribuan rumah dan infrastruktur yang rusak.

Penyebab degradasi dan rusaknya fungsi hidrologi DAS (Daerah Aliran Sungai) menurut dosen saya almarhum Prof. Naik Sinukaban. Pertama, penggunaan dan peruntukan lahan menyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah atau Rencana Tata Ruang Daerah. Misalnya, daerah yang diperuntukkan sebagai hutan lindung dialihfungsikan menjadi pertanian, hutan produksi dialihfungsikan menjadi permukiman, lahan budi daya pertanian dialihfungsikan menjadi permukiman atau industri, dan sebagainya.

Kedua penggunaan lahan di DAS tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Banyak lahan yang semestinya hanya untuk cagar alam, tetapi sudah diolah menjadi pertanian, atau lahan yang hanya cocok untuk hutan dijadikan lahan pertanian, bahkan permukiman. Ketiga, perlakuan terhadap lahan di dalam DAS tersebut tidak memenuhi syarat-syarat yang diperlukan oleh lahan atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah, serta teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan tidak memadai. Faktor keempat, kurang memadainya kesungguhan pemerintah mencegah degradasi lahan. Hal ini terindikasi dari tidak jelasnya program pencegahan degradasi lahan atau penerapan teknik konservasi tanah dan air di setiap tipe penggunaan lahan (Suara Pembaharuan 2008).

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh punggung-punggung bukit yang menampung air hujan dan mengalirkannya melalui saluran air, dan kemudian berkumpul menuju suatu muara sungai, laut, danau atau waduk. Ciri-ciri DAS sehat yang pertama adalah debit sungai merata sepanjang tahun (artinya tidak terjadi banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau), contoh di atas mulai dari meluapnya Sungai di Cina hingga Sungai Batang Salai di Wasior merupakan salah satu ciri bahwa DAS tersebut tidak sehat.

Ciri DAS sehat selanjutnya adalah produktivitas sumberdaya lahan tinggi, artinya apapun kegiatan pertanian yang diusahakan di DAS tersebut dapat berproduksi optimal. Ciri berikut adalah kelestarian sumber daya alam terjamin, artinya sumber daya tanah, air, vegetasi, dan fauna dalam kawasan DAS harus terjamin kelestariannya. Ciri berikut adalah kelenturan (resilience) merupakan ketahanan ekosistem terhadap setiap guncangan (ekologis dan ekonomi) yang terjadi dalam DAS. Suatu DAS yang baik akan memiliki tingkat kelenturan yang tinggi terhadap gejolak yang timbul, sehingga ekosistem tersebut tetap bertahan dan kembali ke bentuk semula. Ciri DAS sehat terakhir adalah adanya pemerataan (equity) pembangunan maupun ekonomi antara bagian hulu dan hilir DAS. Suatu usaha pengelolaan DAS berarti juga tindakan pengelolaan sumber daya air sehingga tidak terjadi krisis air.

Pada DAS terdapat berbagai macam penggunaan lahan, misalnya hutan, lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dengan demikian DAS mempunyai berbagai fungsi sehingga perlu dikelola. Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, petani dan pemerintah untuk memperbaiki keadaan lahan dan ketersediaan air secara terintegrasi di dalam suatu DAS. Tujuan dari pengelolaan DAS adalah terciptanya suatu DAS yang sehat. Suatu DAS yang sehat dapat menghasilkan: unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan, sumber makanan bagi manusia dan hewan, air minum yang sehat bagi manusia dan makhluk lainnya dan juga merupakan tempat berbagai aktivitas manusia dan hewan (Bebas Banjir 2015).

Saya teringat akan satu sosok hebat, dengan latar belakang pendidikan yang tergolong rendah. Orang hebat yang melakukan “sesuatu” berdasarkan keprihatinan atas kondisi DAS yang tidak sehat sehingga terjadi krisis air. Sempat “dicap” sebagai “orang gila” adalah pengalaman seorang pahlawan lingkungan. Beliau adalah Mbah Sadiman (66 tahun) dari Wonogiri – Jawa Tengah, peraih Kick Andy Heroes 2016.

Bagaimana tidak dicap “gila”, beliau menanam pohon beringin seorang diri pada kurang lebih 100 hektar lahan hutan di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan, yang merupakan lereng Gunung Lawu di sisi tenggara. Mbah Sadiman memaparkan ketika masih kanak-kanak dia merasakan sendiri sumber air yang cukup melimpah bersumber dari kedua bukit tersebut.

Namun sumber air itu semakin berkurang ketika kayu-kayu hutan di kedua bukit dijarah warga untuk dijadikan bahan bangunan maupun dijual. Puncak dari kerusakan hutan di kedua bukit itu, terjadi pada tahun 1964 ketika terjadi kebakaran besar. Seluruh tanaman di hutan hangus terbakar. Kondisi hutan gundul itu dibiarkan selama bertahun-tahun sehingga sumber air semakin kritis. Banyak lahan pertanian yang dibiarkan karena kesulitan air, bahkan warga dan ternak mengalami kekurangan air bersih.

Upaya pemerintah untuk menghijaukan kembali Bukit Gendol dan Ampyangan dengan membuat hutan produksi. Kedua bukit itu dijadikan hutan pinus di bawah pengawasan Perhutani. Selama bertahun-tahun Mbah Sadiman bekerja sebagai penyadap getah pinus. Namun berdasarkan pengamatan Mbah Sadiman, pohon pinus tidak mampu mengikat air. Jika musim hujan sering banjir, jika kemarau tetap saja mereka kekurangan air. Mbah Sadiman bergerak, mulai tahun 1996 beliau menanam pohon beringin di lokasi-lokasi yang tidak ada tanamannya. Uang untuk membeli pohon beringin beliau peroleh dengan menjual bibit tanaman cengkeh. Beliau bukan orang kaya, mbah Sadiman hanya bermodalkan ketulusan.

Perlu kesabaran puluhan tahun untuk melihat hasil dari jerih payahnya. “Lima tahun belum merasakan, 10 tahun belum. Sepuluh tahun aliran air masih kecil, 20 tahun baru terasa besar,” kata Sadiman (Nuswantoro 2016). Akhirnya usaha beliau yang tanpa pamrih dan mengenal lelah berbuah manis, puluhan mata air kini muncul dan dimanfaatkan warga untuk air bersih dan pertanian. Air tersebut dimanfaatkan secara gratis oleh warga.

Suatu tindakan pengelolaan DAS mungkin terasa berat bagi orang awam, karena bukan merupakan bagian dari anggota legislatif maupun pemerintah, yang merupakan penyusun dan pengatur kebijakan. Cerita mbah Sadiman mungkin dapat menjadi inspirasi bagi anda dan saya, untuk melakukan sesuatu bagi lingkungan kita. Mungkin pula apa yang dilakukan oleh mbah Sadiman terasa berat bagi kita. Namun tahukah anda, bahwa kita dapat melakukan langkah-langkah sederhana mulai dari diri sendiri, dari rumah kita sendiri. Langkah sederhana pertama adalah menghemat dan tidak membuang-buang makanan.

Melalui ilustrasi saya akan jumlah air dan biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram padi, apakah anda masih ingin menyisakan sebutir nasi dipiring? Bayangkan kalau 1 juta penduduk di bumi ini, masing-masing meninggalkan sebutir nasi. Berapakah jumlah air yang dibuang percuma? Berapa pula hutan dan pepohonan yang telah “dikorbankan” untuk menjadi sawah? Cara sederhana yang bisa langsung dipraktekkan adalah, memasak nasi secukupnya dan mengambil seperlunya, kalau masih kurang silahkan ditambah daripada berlebih namun berakhir di tempat sampah.

Cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah untuk menyelamatkan sumber daya air kita, adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Jangan membuang sampah di sungai, di laut maupun di badan air lainnya. Sebuah ilustrasi sederhana bagi kita penduduk kota Merauke, adalah saluran air (got) di jalan Noari (di depan Kantor Lurah Karang Indah) atau di sepanjang jalan Kamizaun (depan Universitas Musamus dan SMK Negeri 3).

Pada saat-saat tertentu, ada warga sekitar yang memasang jaring atau menjala ikan. Apa hasil yang didapatkan? Ikan bulanak, ikan betik, ikan gastor, belut dan kepiting, adalah hasil yang diperoleh dan menjadi lauk teman nasi. Coba bayangkan jika sumber-sumber air tersebut tercemar sampah, baik sampah rumah tangga maupun industri. Masih adakah ikan yang hidup? Paling-paling yang didapat adalah sampah plastik. Pilihan ada pada anda dan saya!

Di rumah kita masing-masing dapat di tanam berbagai jenis pohon, baik pohon yang dapat menghasilkan kayu (kayu jati, kayu besi, kayu mahoni dan sebagainya). Kita juga dapat menanam berbagai pohon buah (mangga, jambu, sukun, jeruk, pisang, nangka dan sebagainya). Pohon-pohon ini selain berfungsi untuk menghijaukan rumah kita, berfungsi pula untuk menahan dan menyimpan air di musim hujan sehingga sumur di rumah kita tidak kering di musim kemarau.

Pohon-pohon ini menghasilkan oksigen bagi kita dan juga merupakan AC (air conditioner) alami di rumah. Selain itu buah-buahan yang dihasilkan dapat kita konsumsi sendiri maupun dapat dijual. Pohon-pohon seperti pohon jati, pohon besi dan mahoni dapat menjadi warisan sekaligus investasi bagi anak cucu kita kelak. Di halaman rumah dapat kita buat lubang biopori (lebih cocok untuk rumah dengan jenis tanah pasir), lubang biopori ini selain berfungsi sebagai penahan air hujan juga merupakan penyedia pupuk kompos.

Untuk rumah dengan tanah lempung atau liat dapat dibuat sumur resapan untuk menampung air hujan. Sehingga air tidak terbuang percuma, air hujan dapat kita manfaatkan secara maksimal. Kakak kelas saya selalu menampung air bekas wudhu untuk menyiram tanaman. Air bekas cucian beras maupun mencuci sayur atau ikan dan daging dapat kita tampung untuk menyiram tanaman. Matikan keran air apabila air sudah penuh di bak penampungan. Apabila mencuci piring di wastafel, sebaiknya memutar keran dengan volume kecil. Atau lebih baik menampungnya di loyang cuci piring sehingga tidak banyak air yang terbuang.

Menurut pikiran bodoh saya, jumlah sawah di Merauke tidak perlu ditambah yang berarti hutan harus ditebang lagi. Kita hanya perlu mengoptimalkan penggunaan lahan sawah yang telah ada. Salah satu caranya adalah petani menanam padi dengan menggunakan metode SRI (System of Rice Intensification) karena dengan cara ini penggunaan air dapat dihemat. Fuadi, 2016 dalam penelitiaannya mengungkapkan bahwa dengan menggunakan metode SRI dibandingkan dengan pola tanam konvensional, hasil panen yang diperoleh lebih banyak dan tentu saja menghemat air.

Memang air yang digunakan untuk mengairi sawah adalah gratis, tetapi coba bayangkan apabila air tersebut dibeli. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli air? Selain itu Fajar, 2016 dalam penelitiannya juga menyebutkan bahwa dengan metode SRI dan penggunaan irigasi pipa, menghasilkan produksi tinggi dan juga menghemat air.

Hal menarik dari penelitian Fajar dan Fuadi, adalah air yang digunakan dalam irigasi padi sawah tersebut adalah air daur ulang. Air limbah rumah tangga (air bekas mandi, cuci piring, cuci pakaian) dari petani di areal persawahan, ditampung di dalam suatu bak penampungan. Lalu melalui suatu proses sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti, ijuk, arang, pasir, batu kerikil dan tanaman eceng gondok.

Air limbah didaur ulang dan kembali jernih serta bebas dari bahan kimia berbahaya, air ini siap dialirkan ke sawah-sawah petani. Menurut saya, proses penjernihan air tersebut dapat kita terapkan di Merauke baik air limbah rumah tangga untuk irigasi pertanian, maupun menyaring air Rawa Biru sehingga warnanya menjadi jernih untuk air minum.

Coba anda bayangkan bila tidak ada hutan, masihkah ada air? Saya membayangkan apabila terjadi krisis air berkepanjangan, mungkin harga 1 liter air akan lebih mahal daripada harga 1 gram emas. Pilihan ada di tangan saya dan anda, mau mewariskan air mata atau mata air untuk anak cucu?

Tidak ada salahnya saya dan kamu melaksanakan penanaman pohon, 1 orang = 1 pohon.

Cintai hutanmu.

ADA HUTAN = ADA POHON = ADA AIR = ADA KEHIDUPAN

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *